Selasa, 16 Februari 2010

Tawuran vs Tepo Sliro


Setiap bangun pagi, selepas sholat subuh sambil menunggu waktu berangkat kerja jam 05.15 pagi, saya selalu menyempatkan nonton tivi walaupun cuma sebentar. Sebentar dalam arti sebelum remote direbut dan diganti chanel oleh anak saya yang juga selalu mengikuti saya bangun pagi. Maklum, tivi satu-satunya di rumah, one for all, he..he.. Tentu saja stasiun tivi favorit saya banyak. Stasiun apa saja tidak masalah asalkan programnya berita pagi. Tercatat pada jam-jam segitu : Trans TV, TV One, RCTI, dan Metro TV menyiarkan berita pagi. Tapi yang suka membuat saya tercenung adalah bahwa di waktu yang sedemikian pagi dan tenang itu, kepada saya sudah terhambur begitu banyak berita-berita yang “mengerikan”. Dari pembunuhan, bunuh diri, kecelakaan, tawuran, penggrebekan, pembongkaran, dan seabrek aktivitas kekerasan lainnya. Di waktu dimana udara masih sejuk dan embun pagi masih menempel di dedaunan itu, kepada mata dan telinga saya sudah susul menyusul dijejali hawa nafsu manusia yang tidak menghargai nyawa dan sesamanya lagi.



Kekerasan, ya kekerasan. Kata itu semakin sering berputar-putar dalam kepala saya belakangan ini. Tidak perlu saya perjelas berbagai bentuk kekerasan itu. Tidak perlu saya tulis juga, bahwa bentuk kekerasan itu sudah menggurita di berbagai kalangan dari pelajar, masyarakat hingga pejabat. Setelah itu, menumpuk di kepala saya beragam pertanyaan yang tidak kunjung saya temukan jawabannya. Kalau kekerasan sudah semakin membudaya, lantas kemanakah rasa kasih sayang itu. Kemanakah martabat bangsa yang terkenal dengan budaya adi luhung welas asih dan tepo sliro itu?


Semula, selayaknya analisa seorang ahli budaya atau sosiologi, saya kira berbagai bentuk kekerasan itu dikarenakan faktor ekonomi. Kondisi ekonomi yang pas-pasan atau bahkan kehidupan yang serba kekurangan menyebabkan orang dekat dengan kekerasan dan kejahatan. Karena pengangguran, nggak punya kerjaan, nggak punya penghasilan, maka jalan pintas mengentaskan kondisi ekonomi adalah ya itu tadi, kekerasan dan kejahatan. Karena nggak punya modal, maka nggak bisa sekolah yang menyebabkan pengetahuan dan daya nalar terbatas, jadinya mudah dipengaruhi, mudah terprovokasi, mudah dikompori.

Tapi beberapa waktu yang lalu ada diagnosa baru yang belum terpikirkan saya sebelumnya, mengenai akar permasalahan dari berbagai bentuk kekerasan dan kebrutalan ini. Semula bermula saat saya sedang berdiskusi dengan kepala yayasan tempat saya mengajar. Beliau yang baru pulang dari luar negeri mempunyai analisa baru yang beliau dapatkan dari hasil berdiskusi dengan rekan-rekan akademisi di luar negeri sana. Menurutnya, bahwa berbagai bentuk kekerasan itu (beliau mengambil contoh budaya tawuran, seperti tawuran pelajar atau tawuran antar kampung) sebenarnya merupapakan budaya pula, nah lo! Analoginya adalah pada tari-tarian tradisonal. Selanjutnya, beliau meneruskan bahwa di setiap daerah di indonesia ini selalu terdapat tarian perang. Dan perang itu identik dengan kekerasan. Bahkan dulu, dalam setiap pementasan, para penonton selalu menikmati dengan asyik tarian perang itu. Pada pementasan ketoprak, wayang wong, penonton juga menunggu-nunggu adegan perang tanding. Nunggu bad guy-nya koit alias modar alias is death!

Gambar dari www.tamanismailmarzuki.com
Saya masih ingat, sewaktu masih SD, di rumah om saya yang memang guru tari jawa itu, jika murid-murid tarinya sedang berlatih, banyak anak-anak kecil menonton termasuk saya. Keasyikan itu ada setiap murid-muridnya melenggak-lenggok mengikuti irama gamelan. Dan keasyikan itu tetap ada walaupun jenis tariannya tarian perang. Nah kalau dipikir kan serem. Wong gerakannya lemah lembut, agak kemayu tapi saling tubles-tublesan dengan keris! Hiiiiiii Nah bukankah sebenarnya kekerasan itu “menarik”? Jadi nggak usah heran kalau sampai sekarang kekerasan seperti tawuran masih terus go on, wong namanya budaya, selayaknya budaya-budaya yang lain, seperti budaya slametan, budaya sekaten-an, budaya slapanan dan lain-lainnya.

Sejenak saya terbengong, karena analisis seperti itu memang sepertinya mak nyus banget, tepat sasaran. Lepas dari pemikiran apakah budaya kekerasan itu merupakan budaya asli, budaya nggak asli atau budaya ikut-ikutan, sepertinya sulit merubah perilaku manusia yang sudah menjadi budaya, sesulit merubah budaya korupsi, budaya nyogok, budaya merokok di tempat umum, budaya naik motor nggak pake helm, budaya naik motor di trotoar, budaya menerobos lampu merah, lah wong namanya budaya jee… sah, boleh dan halal!

Saya berharap, suatu saat nanti akan menemukan sebuah kajian ilmiah yang benar-benar bisa dipertanggung jawabkan secara akademis yang menyatakan bahwa memang ada korelasi antara budaya yang berupa tarian perang dengan kebiasaan kekerasan itu. Selesai berdiskusi, setelah berfikir keras sampai dahi berkerut akhirnya saya sedikit lega, menyadari bahwa bangsa kita pun sebenarnya masih memiliki budaya-budaya lain yang benar-benar adi luhung dan menjunjung tinggi martabat manusia. Seperti saya yang wong jowo ini memiliki banyak budaya sopan santun, tepo sliro, bahkan jargon mangan ora mangan kumpul pun masih bermakna kesatuan. Juga jargon-jargon lain seperti mikul dhuwur mendem jero dan tut wuri handayani. Tinggal yang manakah yang lebih intens, lebih sering dijadikan budaya. Yang baik atau yang buruk. Tentu saja sasarannya adalah anak-anak kita, generasi muda bangsa. Mau lebih sering nonton ben ten, power ranger, ninja hatori atau nonton ketoprak atau wayang wong…….

Tidak ada komentar:

Posting Komentar