Jumat, 12 Februari 2010

Guru : Panggilan Allah Atau Profesi Manusia

Guru : Panggilan Allah Atau Profesi Manusia?

Penggalan kalimat tersebut saya dapatkan dalam sebuah brosur seminar pembinaan guru kristen. Brosur tersebut saya temukan dalam sebuah kelas di sore hari yang sepi. Mungkin milik teman guru saya yang kristen dan berniat menghadiri seminar tersebut.

Tagline dan kata-kata dalam judul seminar tersebut terus terang menggugah dan menyentuh relung hati saya, malah terasa memukul. Setelah membacanya, sejenak saya merenungkan kata-kata itu dan berfikir keras. Setelah lebih kurang lebih 10 tahun menjadi guru, kata-kata itu seperti sebuah peringatan dan teguran kepada saya. Apakah motivasi saya menjadi guru? Sekedar perjalanan nasib? Cita-cita atau memang bermotivasi rohani? Ah, sebuah pertanyaan yang sulit. Bisa saja jawabannya adalah satu, dua atau bahkan ketiganya.



Sejenak saya merunut perjalanan karir saya sebagai seorang guru. Barangkali 15 atau 10 tahun ke belakang. Sepertinya memang saya tidak pernah bercita-cita menjadi guru. Sejak SD hingga kuliah pun saya tidak pernah memiliki guru atau dosen favorit. Seingat saya, saya malah bercita-cita menjadi polisi atau tentara mengikuti profesi om-om saya. Selepas SMA pernah mengikuti seleksi menjadi polisi dan gagal karena dianggap terlalu ganteng…….. Setelah itu secara “tidak sengaja” menjadi mahasiswa di UNJ (Universitas Negeri Jakarta, dulu bernama IKIP). Di kampus inilah barangkali yang menjadi titik balik dan titik awal saya untuk berkecimpung di dunia pendidikan. Ya iayalah, IKIP memang lembaga yang memang berkompeten dan potensial untuk mencetak kader-kader guru yang mumpuni, bermartabat dan berkualitas.
 Memberi yang terbaik, sepenuh hati dan tulus.....

Sejak masa kuliah hingga wisuda, saya memang berfikir dan berkonsentrasi meningkatkan kemampuan dan profesionalitas saya sebagai guru. Sabar, ceria, jujur, ulet, pantang menyerah, kreatif dan inovatif adalah hal-hal yang harus dipunyai oleh seorang guru. Hal-hal seperti itu terus saya pacu dalam diri saya. Walaupun harus diakui, orang lainlah yang bakalan menilai, apakah saya mempunyai kriteria-kriteria seperti itu.

Jujur, makin lama saya makin menikmati peran saya sebagai guru. Karena dengan itu saya bertemu dengan anak-anak sebagai sumber inspirasi dan kepolosan dalam hidup ini. Sumber kepolosan? Ya, dalam wajah anak-anak inilah terdapat gambaran ciptaan Tuhan yang luar biasa, sempurna dan hakiki. Tidak ada kontaminasi, tidak ada kedengkian, tidak ada nafsu menyakiti, tidak ada hasrat ingin melukai. Semua terbatas pada tingkah laku anak-anak yang polos, lucu dan menggemaskan. Dalam hati saya pernah berfikir, ah, seandainya mereka tidak pernah menjadi dewasa, barangkali tidak akan ada perang di dunia ini?
 Kuberikan dan kuwariskan mutiara dan lautan ilmu kepadamu......


Sebagai guru pula saya khawatir. Khawatir bahwa saya akan salah mendidik, salah menunjukan jalan, salah memberi arah, sehingga mereka nantinya akan salah langkah dan tersesat. Saya takut, mereka akan menjadi koruptor, provokator, atau orang yang kotor (pake celana kolor!) Jangan-jangan itu dikarenakan karena saya sebagai guru tidak memberikan bekal yang cukup agar mereka menempuh hidup ini dalam jalan yang lurus. Tempo hari, ada orang tua murid saya yang cerita kalau anaknya yang sedang tumbuh dan aktif-aktifnya bermain melakukan gerakan roll depan seperti yang saya ajarkan pas pelajaran olahraga senam. Cuma ya itu, melakukan roll depannya pas mereka sedang jalan-jalan di sebuah mall. Tidak di kasur atau di matras, nah lo!

Lepas dari pepatah guru adalah pelita, atau pahlawan tanpa tanda jasa, guru adalah profesi mulia (bener deh, saya nggak bohong). Walaupun beberapa kali di media, disiarkan juga ada guru yang bertingkah polah geblek! Tanpa guru, siapa yang akan membekali generasi muda dengan ilmu? Tanpa guru siapa yang akan membimbing langkah-langkah kecil itu dengan akhlak? Dalam konteks rohani dan agama, Ibrahim, Isa dan Muhammad pun seorang guru. Mereka semua mendidik, memberi ilmu dan pelajaran. Kyai, ustad, pastur, pendeta juga seorang guru, mereka meneruskan setiap ajaran agama agar terus tersampaikan kepada umat.
 Aku gurumu, aku sahabatmu....

So, kembali ke pertanyaan semula : Guru : Panggilan Allah atau Profesi Manusia? Menurut saya semuanya adalah hal yang tidak perlu diperdebatkan, selama kita ikhlas dan tulus menjalani profesi kita. Juga kapan Allah mengingatkan kita agar menyadari bahwa profesi guru adalah panggilanNya. Bisa di awal, atau sejalan dengan perjalanan karir kita sebagai guru. Kapanpun kita menyadari hal itu, yakinlah bahwa ada dorongan rohani yang berarti ibadah dalam profesi guru, selayaknya Rasul dan Nabi yang mengajari umatnya. Seperti layaknya konsep kehidupan, akan selalu ada unsur hablum minallah dan hablum minnan nash….

Tidak ada komentar:

Posting Komentar