Selasa, 18 Mei 2010

Sang Juara Itu Keponakanku!

 Sang Juara : Fitryan Dwi Rahayu

Setelah satu minggu kemarin, saya ngos-ngosan mengurusi UASBN SD murid semata wayang saya, Thania, di minggu berikutnya saya mendapat kabar yang menggembirakan, masih mengenai UASBN. Tapi kali ini kabar gembira itu berasal dari kampung kelahiran saya, Kebumen. Di sore menjelang petang itu, disaat saya sedang cengengesan menonton Opera Van Java-nya Parto CS, ada SMS masuk ke HP Nokia jadul saya. Saya baca dari kakak perempuan saya yang bermukim di Kebumen sana, Yu Nani. Bunyinya : Alhamdullilah, Riyan mendapat rangking 1 nasional Ujian Nasional tingkat SMP. Sejenak saya terbengong tidak percaya. Saya tahu, kakak saya itu memang keras mendidik anak-anaknya dan semuanya memang paling tidak menjadi juara di sekolahnya, tapi menjadi ranking 1 tingkat nasional? Segera saja saya sibuk berbalasan SMS dengan kakak saya itu untuk meyakinkan. Dan memang begitulah kenyataannya, si Riyan, alias Fitryan Dwi Rahayu, Keponakan saya yang terakhir kali saya lihat dulu masih SD itu, sekarang mendadak menjadi bintang. Nilai rata-ratanya mencapai 9,95 almost perfect!

UN.. oh.. UN!

Ini adalah sisi lain dari pelaksanaan UASBN tingkat SD 4-5 Mei 2010 kemarin. Bukan mengenai prediksi kelulusan ataupun ulasan pelaksanaannya yang banyak diungkap ahli pendidikan. Bukan pula mengenai kontroversi dari UASBN itu sendiri seperti banyak ditulis di media masa, ada yang setuju ada yang tidak setuju. Bukan, yang saya tulis adalah pengalaman saya yang selama 3 hari itu menjadi single fighter alias panitia tunggal alias iji-ijine. Single fighter persis sih enggak karena ada partner saya, Pak Wiji, tentara penjaga sekolah yang selalu setia menemani saya kemana-mana.

Jumat, 07 Mei 2010

Bogorianz Goes To Gunung Pancar

Saat sedang membuka facebook saya banyak menemukan foto-foto kegiatan HTML Bogor saat mengikuti acara HTML Loves Earth : Two WheelsTwo Trees. Foto-foto tersebut saya temukan di akun-nya bro Earfun Zacko (sorry kalau salah sebut, abis susah banget namanya). Segera saja saya “sedot” habis foto-foto itu. Satu hal yang membuat saya kagum adalah bahwa beberapa foto-foto itu mempunyai angle pengambilan yang sangat bagus serta mampu “berbicara” banyak. Menandakan bahwa sang pemotret mempunyai ketrampilan dan teknik pengambilan gambar yang cukup profesional.

Perjalanan Cinta Pangeran Cikaret



Perjalanan cinta bak sebuah kapal yang sedang berlayar
Setinggi apapun ombak yang bergulung
Sedalam apapun laut tersebrangi
Sejauh apapun benua terlewati
Suatu saat dia harus berlabuh dan membuang sangkar
................di sebuah pelaminan
                                        (Herry Wongkeb, Mei 2010)



Alkisah di sebuah kerajaan yang adil makmur sentosa, yaitu kerajaan Cikaret Raya, bertahtalah seorang raja yang arif bijaksana bernama Raja Dony Dwihandono. Sosoknya tinggi besar gagah perkasa dengan wajah yang tegas dan mengguratkan sisa-sisa ketampanannya di masa muda. Maklum, yang mulia raja kini sudah berusia 70-an tahun. Dia dicintai segenap warga kerajaan karena mampu membawa rakyatnya ke kehidupan yang penuh kedamaian dan kesejahteraan, tak ada korupsi, kolusi, nepotisme apalagi kasus pajak! Hanya saja, akhir-akhir ini wajah sang raja seperti bermuram durja. Setiap hari, sang raja selalu terlihat melamun seperti sedang memikirkan sebuah persoalan yang sangat pelik. Hal ini diketahui oleh sang Mahapatih Sonay, tangan kanan sekaligus panglima perang kerajaan. Sebagai orang yang berpengalaman dan sudah kenyang makan asam garam kehidupan, sang mahapatih sebetulnya paham dengan apa yang sedang mengganggu pikiran sang baginda raja.