Sang artis, Sonni Harjo Sawunggaling, di depan karyanya.
Sebuah undangan berwarna merah menyala diantar oleh OB di sekolah Senin kemarin. Pengirimnya ternyata seorang kenalan yang sudah sekian lama tidak bertemu, Sonni Harjo Sawunggaling. Buat saya, sosok yang sekeren namanya ini bukanlah orang lain. Dia adalah adik dari kepala yayasan tempat saya mengajar, Mr. Anin Baroto. Yang membuat saya terkesima, undangan tersebut adalah undangan menghadiri pembukaan pameran lukisan, dimana salah satu artisnya adalah mas Sonni ini. Judul pamerannya sangat menjajikan, “Pameran Lukisan & Kaligrafi Tionghoa – Edi & Murid-Murid”. Rasa penasaran dan kaget jelas mengganggu benak saya. Sejak kapan mas Sonni yang saya kenal sebagai seorang pengusaha ini mendalami seni lukis? Hebatnya, pameran yang diselenggarakan di lobby kampus Universitas Bina Nusantara mulai 16 Januari 2012 itu adalah pameran lukisan bergaya Tionghoa, sebuah aliran lukisan dunia yang berkembang sejak tiga ribu tahun yang lampau.
Rabu, 18 Januari 2012
Minggu, 15 Januari 2012
Antara Melukis dan Photoshop
Teacher, candle in the dark, efek gelap terang.....
Liburan sekolah kemarin,benar-benar saya manfaatkan untuk melampiaskan kegemaran saya membuat image. Maksudnya memang benar-benar membuat “image” alias gambar. Salah satu hobby saya memang melukis yang membuat saya sering dimintai tolong teman-teman guru jika mereka kesulitan membuat bahan ajar berupa gambar. Tapi ya memang sementara hanya sekedar sampai level hobby saja belum bisa dimanfaatkan untuk hal-hal yang sifatnya produktif seperti menjual hasil karya saya, misalnya. Selain hobby itu angin-anginan, juga hasil akhirnya terkadang masih “ngisin-ngisini” alias belum layak dibeli orang. Taruhlah ada teman yang terkesan karena wajahnya saya pindahin ke kanvas atau kertas, ya saya kasih aja dengan suka rela. Wong temen je… masa temen makan temen….
Kamis, 15 Desember 2011
Ari Sugiarto, Pelukis Ekspresionis
Girl with flower, Nicola's painting.
Tanggal 8 November 2011 kemarin, di sebuah siang, mendadak bapak kepala yayasan, Mr. Anin yang juga seorang pelukis memanggil saya untuk mengumpulkan beberapa siswa yang gemar melukis. Usut punya usut, rupanya beliau kedatangan seorang teman pelukis dari Solo bernama pak Ari Sugiarto. Mr. Anin yang sedang mendalami aliran ekspresionisme dari pak Ari itu menginginkan agar pak Ari juga membagi ilmunya kepada siswa-siswa Lakeside Montessori School. Maka dengan senang hati, pak Ari yang berkenalan dengan Mr. Anin di Pasar Seni Jaya Ancol itupun menjadi “dosen kehormatan”, guna membagi ilmunya kepada anak-anak.
Tanggal 8 November 2011 kemarin, di sebuah siang, mendadak bapak kepala yayasan, Mr. Anin yang juga seorang pelukis memanggil saya untuk mengumpulkan beberapa siswa yang gemar melukis. Usut punya usut, rupanya beliau kedatangan seorang teman pelukis dari Solo bernama pak Ari Sugiarto. Mr. Anin yang sedang mendalami aliran ekspresionisme dari pak Ari itu menginginkan agar pak Ari juga membagi ilmunya kepada siswa-siswa Lakeside Montessori School. Maka dengan senang hati, pak Ari yang berkenalan dengan Mr. Anin di Pasar Seni Jaya Ancol itupun menjadi “dosen kehormatan”, guna membagi ilmunya kepada anak-anak.
Label:
Stories in School
Jumat, 28 Oktober 2011
(Di Jalan Raya) Betapa Dekatnya Kita Dengan Maut!
Sebenarnya bisa dihindarkan....
Judulnya jelas sangat berarti dan pasti diiyakan oleh mereka yang peduli akan savety riding. Mungkin juga akan dicuekin oleh mereka yang berprinsip “motor aing kumaha aing”. Tapi peduli atau tidak, sadar atau tidak sadar, kecelakaan di jalan raya bagaikan pemangsa yang siap sedia menunggu kelengahan kita. Bahkan baru-baru ini Marco Simoncelli, pembalap motoGP yang balapan dengan standar keamanan tertinggi di duniapun terenggut jiwanya menyusul Daijiro Kato yang meninggal dunia di even yang sama tahun 2003 silam. Tidak perlu diceritakan betapa tragisnya saat Simoncelli tertabrak motor rivalnya setelah terguling di aspal dengan helm terlepas dari kepala, atau betapa mengerikannya melihat motor Daijiro Kato yang hancur berkeping-keping saat menabrak dinding pembatas lintasan.
Judulnya jelas sangat berarti dan pasti diiyakan oleh mereka yang peduli akan savety riding. Mungkin juga akan dicuekin oleh mereka yang berprinsip “motor aing kumaha aing”. Tapi peduli atau tidak, sadar atau tidak sadar, kecelakaan di jalan raya bagaikan pemangsa yang siap sedia menunggu kelengahan kita. Bahkan baru-baru ini Marco Simoncelli, pembalap motoGP yang balapan dengan standar keamanan tertinggi di duniapun terenggut jiwanya menyusul Daijiro Kato yang meninggal dunia di even yang sama tahun 2003 silam. Tidak perlu diceritakan betapa tragisnya saat Simoncelli tertabrak motor rivalnya setelah terguling di aspal dengan helm terlepas dari kepala, atau betapa mengerikannya melihat motor Daijiro Kato yang hancur berkeping-keping saat menabrak dinding pembatas lintasan.
Minggu, 04 September 2011
Filipina, Asia Yang Amerika
Makati, di malam hari. (Pic from : http://blacklognz.blogspot.com)
Judul artikel saya kali ini jelas tidak berlebihan. Filipina memang berbeda secara kultur budaya dibanding negara Asia lainnya. Tidak seperti Indonesia, Malaysia dan Brunei yang sangat Melayu. Atau seperti Vietnam, Thailand dan Kamboja yang sangat Indochina, Filipina sangat “bernuansa” Amerika. Barangkali itu adalah analisa serampangan dari saya pribadi. Tapi paling tidak, itulah hal yang saya tangkap ketika seminggu saya di sana sebagai staff pameran Wayang Wahyu di Universitas Santo Tomas, Manila. Dari bahasanya, cara berpakaian gadis-gadisnya yang lebih “terbuka” hingga model plat mobilnya, sangat terasa sekali gaya Amerikanya. Beberapa teman guru dari Filipina yang menceritakan mengenai keadaan negerinya sewakatu masih di Jakarta memang sudah membersitkan perkiaraan, bahwa Filipina memang berbeda. Tapi toh, saat saya di sana, beberapa hal membuat saya bengong.
Judul artikel saya kali ini jelas tidak berlebihan. Filipina memang berbeda secara kultur budaya dibanding negara Asia lainnya. Tidak seperti Indonesia, Malaysia dan Brunei yang sangat Melayu. Atau seperti Vietnam, Thailand dan Kamboja yang sangat Indochina, Filipina sangat “bernuansa” Amerika. Barangkali itu adalah analisa serampangan dari saya pribadi. Tapi paling tidak, itulah hal yang saya tangkap ketika seminggu saya di sana sebagai staff pameran Wayang Wahyu di Universitas Santo Tomas, Manila. Dari bahasanya, cara berpakaian gadis-gadisnya yang lebih “terbuka” hingga model plat mobilnya, sangat terasa sekali gaya Amerikanya. Beberapa teman guru dari Filipina yang menceritakan mengenai keadaan negerinya sewakatu masih di Jakarta memang sudah membersitkan perkiaraan, bahwa Filipina memang berbeda. Tapi toh, saat saya di sana, beberapa hal membuat saya bengong.
Sabtu, 03 September 2011
Pameran Wayang Wahyu di Filipina
Kisah Alkitab dalam pahatan kulit kerbau
Ini adalah tulisan saya yang kedua mengenai Wayang Wahyu. Kali ini adalah mengenai pameran Wayang Wahyu yang diadakan di Filipina. Siapa sangka, wayang yang diciptakan oleh Bruder L. Timotius Wignyosubroto, FIC di Solo pada 2 Februari 1960 kini sudah dikenal oleh publik Filipina, khususnya di sekitar Manila. Dan pameran di Filipina ini adalah pameran Wayang Wahyu yang pertama kalinya di dunia. Pameran itu merupakan prakarsa Baroto Murti Anindito, seniman Indonesia yang sedang menimba ilmu di Universitas Santo Tomas, Manila dan diadakan di Main Hall Musium Universitas tersebut. Dan saya beruntung, mendapat kesempatan sebagai “seksi repot” yang ikut membantu persiapan pameran. Pameran yang direstui oleh pihak kampus itu juga mendapat dukungan dari kedutaan besar Indonesia di Filipina. Bahkan duta besar Indonesia untuk Filipina, Y. Kristiarto Soeryo Legowo, berkesempatan membuka dan memberikan sambutan di upacara pembukaan Pameran.
Ini adalah tulisan saya yang kedua mengenai Wayang Wahyu. Kali ini adalah mengenai pameran Wayang Wahyu yang diadakan di Filipina. Siapa sangka, wayang yang diciptakan oleh Bruder L. Timotius Wignyosubroto, FIC di Solo pada 2 Februari 1960 kini sudah dikenal oleh publik Filipina, khususnya di sekitar Manila. Dan pameran di Filipina ini adalah pameran Wayang Wahyu yang pertama kalinya di dunia. Pameran itu merupakan prakarsa Baroto Murti Anindito, seniman Indonesia yang sedang menimba ilmu di Universitas Santo Tomas, Manila dan diadakan di Main Hall Musium Universitas tersebut. Dan saya beruntung, mendapat kesempatan sebagai “seksi repot” yang ikut membantu persiapan pameran. Pameran yang direstui oleh pihak kampus itu juga mendapat dukungan dari kedutaan besar Indonesia di Filipina. Bahkan duta besar Indonesia untuk Filipina, Y. Kristiarto Soeryo Legowo, berkesempatan membuka dan memberikan sambutan di upacara pembukaan Pameran.
Rabu, 15 Juni 2011
Gita Cinta (Dari SMP)!
Saat remaja jatuh cinta (pic : IST)
Di akhir tahun ajaran ini, seperti biasa banyak kisah terselip menjelang liburan panjang. Satu hal menarik yang minggu kemarin terjadi adalah beberapa “kisah cinta” yang semerbak di antara siswa-siswi saya. Sebagai pendidik dan “penguasa sekolah” semua hal memang tertangkap pandangan mata saya yang setajam silet ini. Makanya saya selalu gemes, jika ada berita atau kasus kejadian tidak menyenangkan di sekolah manapun yang terlewat dari dari pengawasan guru-gurunya. O ya, semula saya agak ragu menyebutkan sebagai kisah cinta, tapi setelah dikaji dari berbagai penerawangan, terpaksa saya tetap menggunakan bahasa manis itu, toh kata-kata cinta sendiri bukanlah sesuatu yang diharamkan. Ya, Beberapa dari mereka terpaksa meneteskan air mata karena harus berpisah dengan soulmate atau yayang-nya. Hal itu memang harus terjadi karena mereka terpaksa harus pindah ke sekolah lain, bahkan ada yang ke luar negeri.
Di akhir tahun ajaran ini, seperti biasa banyak kisah terselip menjelang liburan panjang. Satu hal menarik yang minggu kemarin terjadi adalah beberapa “kisah cinta” yang semerbak di antara siswa-siswi saya. Sebagai pendidik dan “penguasa sekolah” semua hal memang tertangkap pandangan mata saya yang setajam silet ini. Makanya saya selalu gemes, jika ada berita atau kasus kejadian tidak menyenangkan di sekolah manapun yang terlewat dari dari pengawasan guru-gurunya. O ya, semula saya agak ragu menyebutkan sebagai kisah cinta, tapi setelah dikaji dari berbagai penerawangan, terpaksa saya tetap menggunakan bahasa manis itu, toh kata-kata cinta sendiri bukanlah sesuatu yang diharamkan. Ya, Beberapa dari mereka terpaksa meneteskan air mata karena harus berpisah dengan soulmate atau yayang-nya. Hal itu memang harus terjadi karena mereka terpaksa harus pindah ke sekolah lain, bahkan ada yang ke luar negeri.
Langganan:
Postingan (Atom)






