Tampilkan postingan dengan label Savety Riding. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Savety Riding. Tampilkan semua postingan

Senin, 13 Februari 2012

Oh My God....!

Yang muda yang bergaya, yang muda yang melanggar..... who's care?(pic :PR online)


Entah mengapa, akhir-akhir ini saya malas mengendarai motor untuk bepergian. Barangkali dengan semakin hilangnya rasa aman saat di jalan raya membuat nafsu mbejek gas semakin berkurang seiiring dengan rasa ketakutan yang semakin membesar. Bagaimana rasa takut tidak semakin membesar jika setiap hari, televisi, koran, atau bahkan obrolan sesama teman isinya berupa berita-berita kecelakaan yang semakin menjadi santapan sehari-hari. Korban terkapar semakin bertebaran seirama dengan tingkah polah pengguna jalan yang semakin semau gue.

Beberapa waktu lalu, saat menemui kemacetan parah di sekitar pasar Cibinong dalam perjalanan menuju Cibubur, seperti biasa saya langsung menduga pelakunya adalah oknum sopir angkot yang ngetem sembarangan. Dan ketika melewati pusat kemacetan, barulah saya ngoh ternyata penyebabnya adalah karena kecelakaan. Sepertinya kecelakaan tunggal, karena saya hanya melihat satu motor yang tergeletak di pinggir jalan. Tidak jauh dari motornya, diantara kerumunan manusia yang menyemut, sang biker hanya terlihat ujung kedua kakinya, jari-jarinya sudah kaku memutih, kotor oleh debu dan sedikit darah, terbaring kaku tertutup koran. Sepatunya menghilang seiring dengan nyawanya menghadap sang khalik. Pemandangan sekilas yang hanya berlangsung sekian detik itu langsung mengurutkan niat saya untuk menggeber gas selepas kemacetan.

Jumat, 28 Oktober 2011

(Di Jalan Raya) Betapa Dekatnya Kita Dengan Maut!

Sebenarnya bisa dihindarkan....

Judulnya jelas sangat berarti dan pasti diiyakan oleh mereka yang peduli akan savety riding. Mungkin juga akan dicuekin oleh mereka yang berprinsip “motor aing kumaha aing”. Tapi peduli atau tidak, sadar atau tidak sadar, kecelakaan di jalan raya bagaikan pemangsa yang siap sedia menunggu kelengahan kita. Bahkan baru-baru ini Marco Simoncelli, pembalap motoGP yang balapan dengan standar keamanan tertinggi di duniapun terenggut jiwanya menyusul Daijiro Kato yang meninggal dunia di even yang sama tahun 2003 silam. Tidak perlu diceritakan betapa tragisnya saat Simoncelli tertabrak motor rivalnya setelah terguling di aspal dengan helm terlepas dari kepala, atau betapa mengerikannya melihat motor Daijiro Kato yang hancur berkeping-keping saat menabrak dinding pembatas lintasan.

Rabu, 25 Agustus 2010

Menyesal (Pasti) Belakangan!

 Gak tega ngeliatnya!

 Beberapa waktu yang lalu saya pernah menulis mengenai hal-hal yang harus diperhatikan jika kita membonceng anak kecil (artikel komplitnya bisa klik disini) eh, sebuah kejadian menimpa salah satu murid TK saya. Kejadiannya persis yang saya khawatirkan dalam tulisan tersebut, yaitu bahaya membawa anak kecil dengan menempatkannya di dek depan sebuah motor matic. Saya bayangkan, Dia berdiri dengan gembira sambil berpeganganan di area sekitar stang tanpa menyadari bahaya yang mengintainya, demikian juga kakaknya, sang rider. Begitu motor direm, entah itu karena ada lubang di jalan, nenek-nenek nyebrang atau apalah, tentu saja sang anak akan terlempar tanpa sempat ditahan.

Selasa, 15 Juni 2010

Dulu Babi Sekarang Monyet!

Saat sedang mengendarai sepeda motor saya suka tertawa sendiri jika melihat stiker dengan beragam isi tulisan-nya. Dulu saat awal-awal saya bergabung dengan komunitas HTML (Honda Tiger Mailing List) di awal 2009-an, waktu itu sedang ngetren-ngetren-nya stiker dengan tulisan “cuma babi yang menerobos lampu merah”. Kenapa babi? Mungkin secara ilmu kebinatangan, babi adalah salah satu binatang yang “ndableg” alias keras kepala, yang kalau jalan tidak bisa nengok kiri kanan dan maunya jalan lurus terus. Ya, semacam celeng atau babi hutan dan sebangsanya itu. Masuk akal memang, sih…..

Senin, 07 Juni 2010

Jika Si Kecil Harus Membonceng!

 Sebagai “pengamat” kondisi jalan raya, khususnya para pengendara roda dua, seringkali saya harus geleng-geleng kepala melihat keberanian para pengendara roda dua itu. Dimulai dari pelanggaran “biasa” seperti tidak menggunakan helm, belok tanpa aba-aba lampu sen, hingga mengendarai motor sambil asyik menelpon atau ber-SMS, termasuk juga sambil mendengarkan musik lewat mp3 player. Sadarkah mereka bahwa tingkah laku mereka sangat membahayakan, tidak saja buat diri mereka sendiri akan tetapi juga buat pengguna jalan raya yang lain (sok tua he.. he...). Jika dibuat list, mungkin akan banyak sekali bentuk pelanggaran yang dilakukan, maklum tertib dan disiplin belum menjadi budaya dan pola hidup masyarakat jalan raya kita. Mereka takut dan tertib hanya jika ada polisi yang merazia (yang frekuensi-nya semakin jarang). Pelaksanaan UU lalu lintas no.22 yang baru pun belum menampakan kekuatannya. Pak polisi-nya sepertinya masih cuek mendiamkan beragam pelanggaran di depan mata mereka. Sang biker pun mempertontonkan pelanggaran yang mereka lakukan dengan bangganya, duh!

Nah, akhir-akhir ini, di jalan raya saya semakin sering melihat para bapak, para ibu, para mbak, para kakak yang membawa anaknya, adiknya, keponakannya dan mungkin cucunya yang masih kecil bin imut di sepeda motor dengan cara yang sangat serampangan, ceroboh dan membahayakan.

Selasa, 02 Maret 2010

Aku Benci Polisi Ini!

Untuk yang kesekian kalinya saya harus mengumpat (kadang dalam hati, kadang di luar hati alias ada suara yang keluar) kepada polisi yang satu ini. Sosoknya yang keras dengan tonjolan otot sepanjang tubuhnya memang hanya bisa membuat saya cuma bisa mengumpatnya setelah melewati keberadaannya. Nggak kebayang deh, kalau dia berdiri terus menimpakan ototnya itu ke badan saya ini. Walaupun saya termasuk kekar dan bongsor tapi dijamin saya bakalan “tepar” dan “klepek-klepek”….!! Belum lagi sikapnya yang super cuek membuat saya membathin, ah-percuma ngomong ama dia. Sering saya menemukan sosoknya sepanjang saya mengendarai motor di jalanan ibukota ini, bahkan hingga ke daerah. Heran, nih polisi rajin amat, hingga jajahan tugasnya sepanjang tanah air.

Selasa, 23 Februari 2010

Helm dan fatwa MUI, efektifkah?

Beberapa hari lalu, di milis HTML (Honda Tiger Mailing List) sempat beredar postingan mengenai usulan agar MUI (Majelis Ulama Indonesi) mengeluarkan fatwa haram mengendarai motor tanpa helm. Sumber postingan itu berasal dari detikOto.com. Beragam komentar pun bermunculan. Dari yang sinis, skeptis, setuju atau berharap banyak. Yang meminta agar MUI mengeluarkan fatwa haram itu adalah RSA (Road Safety Association), sebuah lembaga yang peduli pada akan keselamatan dan keamanan di jalan raya. Dalam pertemuan itu ada beberapa nama yang patut disebut. Diantaranya Rio Octaviano sebagai ketua umum RSA dan Edo Rusyanto, kepala litbang RSA. Dari pihak MUI, diwakili oleh Ichwan Syam, sekjen MUI.